Skip to main content

Prestasi vs Kontribusi

sumber: https://www.pmcpl-india.com/
Prestasi dan kontribusi adalah dua hal yang berbeda. Orang yang berprestasi, belum tentu berkontribusi. Orang yang berkontribusi, otomatis  mendorong prestasi.

Prestasi adalah personal, sedangkan kontribusi adalah sosial

Prestasi adalah pencapaian, sedangkan kontribusi adalah pengabdian.


Prestasi diukur dari  apa yang kita capai, sedangkan kontribusi diukur dari seberapa besar manfaat yang diterima orang lain

Dakwah itu mengejar kontribusi, bukan prestasi

Fokus pada kontribusi, prestasi akan mengikuti.

Dakwah Nabi Nuh butuh waktu 950 tahun “hanya’ mendapatkan 80 pengikut. Tapi kontribusi dakwahnya nyata sampai sekarang, terpahat dalam Al Qur’an, menjadi referensi generasi umat Islam ribuan tahun setelahnya.

Nabi Ibrahim memang tidak berhasil membuat Namrudz beriman, tapi kontribusi dakwahnya kepada raja zalim itu mengajarkan logika debat berbasis akal sehat tentang Ketuhanan yang diterima oleh generasi setelahnya.

Nabi Musa tidak punya prestasi dalam mengislamkan Fir’aun, tapi kontribusinya dalam menyelamatkan kaum Bani Israel membuat pertolongan Allah menenggelamkan kerajaan Fir’aun dan balatentaranya pun turun.

Seorang budak seperti Bilal berkontribusi besar dalam membela eksistensi dakwah di masa awal perjuangan, dan prestasi politiknya sebagai gubernur hanyalah dampak dari konsistensi kontribusi.

Yusuf as menjadi Menteri Keuangan di Mesir, itu adalah prestasi. Tapi rentetan kontribusinya dalam memberikan solusi kepada masalah ekonomi Mesir adalah pemicunya.

Allah SWT menghukum Nabi Yunus dengan ditelannya beliau dalam perut ikan paus. Sebab Nabi Yunus mengejar prestasi berupa berimannya kaum Assyiria di Ninawa, Irak, sedangkan Allah SWT menyuruhnya untuk berkontribusi mengajak kaumnya ke jalan Allah.

Al Qur’an lebih menekankan kita untuk mengejar kontribusi. Tidak ada kewajiban untuk berkuasa, tidak ada kewajiban untuk memperoleh jabatan politik sebagai indikator prestasi. Tapi sangat wajib untuk menyantuni anak yatim, memberi makan orang miskin, menjaga lingkungan, menyambung silaturahmi, dll.  Semua ini adalah kontribusi.

Malah Al Qur’an menyuruh kita berlomba-lomba dalam berkontribusi, bukan berprestasi.

Prestasi tertinggi kita sebagai manusia adalah masuk surga. Dan untuk itu, harus berkontribusi dulu di dunia.

Dalam Perang Khandaq yang terjadi di musim dingin. Di malam gelap, lagi sangat dingin dan kondisi para sahabat sangat lapar, sangat haus dan sangat ketakutan, karena pasukan musuh merupakan gabungan musuh yang terkuat saat itu, Rasulullah SAW ingin mengutus seorang sahabat untuk masuk menyusup ke dalam pasukan musuh dan mencari informasi yang dibutuhkan, maka Nabi SAW melombakan hal tersebut dengan sabdanya:  

 

ألا رجل يأتيني بخبر القوم جعله الله معي يوم القيامة "Siapa di antara kalian yang berani menyusup ke pasukan musuh dan mencari informasi yang aku butuhkan niscaya ia akan menjadi temanku di dalam surga".  Metode seperti ini sering diterapkan Rasulullah SAW.  Jadi, Rasulullah mengajarkan afterlife mindset, pola pikir yang jauh ke depan dalam konteks prestasi. Tidak ada janji jabatan politik, harta rampasan perang yang banyak, apabila ada yang berhasil menyusup ke sana. Cara berpikir seperti inilah yang harus dimilliki oleh kader dakwah.

 

Kontribusi harus berbasis keimanan, bukan (sekedar) kemanusiaan. Kalau sekedar kemanusiaan, Al Walid bin Al-Mughirah pun juga melakukannya. Kontribusi sosialnya cukup besar. Selain menjadi bagian dari orang yang merenovasi Ka’bah, dan melarang masyarakat untuk mendermakan harta hasil judi, riba dan upah pelacuran, dia juga yang melarang masyarakat mengkonsumsi minuman khamar, bahkan pernah memukul anaknya, Hisyam yang ketahuan minum khamar. Dia juga yang menetapkan hukum potong tangan pada masa jahiliyah. Tapi dia tercatat dalam sejarah sebagai musuh dakwah, musuh Rasulullah. Dia bahkan disimbolkan sebagai  “orang  yang dijauhkan dari kebenaran”, dan divonis akan masuk neraka Saqar (QS. 74:26).  

Dalam konteks sosial politik, memenangi konstelasi pemilu adalah prestasi, tapi menelurkan kebijakan yang menyengsarakan rakyat jelas bukan merupakan kontribusi.

Menang pilkada adalah prestasi, tapi kalau jumlah angka kemiskinan makin meningkat, kesejahteraan makin menurun, masalah sosial semakin banyak, adalah bukti bahwa kemenangan tidak identik dengan kontribusi.

Menguasai 19,33% kursi DPR RI pada pemilu 2019 yang lalu adalah sebuah prestasi, tapi menjadi partai dengan jumlah koruptor tertinggi adalah bukti tidak adanya kontribusi dalam menyelamatkan uang negara.

Kader dakwah adalah kumpulan orang-orang yang berkontribusi. Keberadaannya membawa manfaat, ketidakberadaannya membawa mudhorat. Da’i harus menjadi manusia “wajib”, bukan manusia “mubah” yang ada atau tidak adanya tidak dirasakan manfaatnya oleh lingkungan. Jangan sampai juga menjadi manusia “haram”, yang keberadaannya membawa masalah, ketidakberadaannya membawa manfaat.

Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat buat orang lain, demikian kata Rasulullah saw.

Memiliki kekuasaan politik hakekatnya bertujuan untuk melakukan scale-up kontribusi. Memperlebar, memperluas, memperbanyak manfaat untuk masyarakat. Bukan sebaliknya, malah menambah beban masyarakat.

Dari tingkat terkecil, kader dakwah sudah dididik untuk berkontribusi. Baksos, bazar murah, tanggap bencana, adalah sedikit contoh dari kontribusi kader untuk masyarakat.

Teruslah berkontribusi, ciptakan ide-ide baru dalam men-deliver kontribusi, nanti prestasi berupa kemenangan politik hanya masalah waktu.

Prestasi itu jangka pendek. Sedang kontribusi itu jangka panjang

Jangan sampai kita punya prestasi, tapi masyarakat tidak merasakan kontribusi.

Comments

Popular posts from this blog

Berangkat Haji karena Becak

Kisah ini saya dengar dari sebuah buku, kalau tidak salah buku terbitan PPPA Daarul Qur’an. Seorang tukang becak yang punya cita-cita ingin haji percaya betul bahwa Allah SWT yang berkehendak memberangkatkan atau tidak memberangkatkan orang. Bukan uang yang menyebabkan orang bisa ke Makkah dan Madinah. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi adalah milik Allah, tidak sulit bagi Allah mengundang hamba-hambaNya untuk hadir ke rumahNya.  Supaya diberi  privilege  untuk bisa ke tanah suci, yang harus dilakukan tentu adalah “merayu” Pemilik tanah suci, alias Allah SWT. Salah satu cara merayunya adalah dengan melakukan apa yang Allah SWT sukai, ridhio, senangi, sehingga Dia berkenan mengundang hamba tersebut ke sana. Tidak peduli setinggi apapun biaya haji, atau biaya umroh, kalau Allah sudah mengundang, maka  kun fayakun , terjadilah apa yang Dia kehendaki terjadi. Pak Parman, tukang becak yang tinggal di kampung Kebon Kopi, adalah salah satu contoh betapa jika Allah sudah berkehendak tidak ad

Rezeki Segini-Gini Aja? Mungkin Karena Ibadahmu yang Segitu-Gitu Aja…

Pernah ngga kita nyoba ngukur berapa besar rezeki kita dengan amalan ibadah yang kita lakukan sekarang? Karena rezeki itu luas, ada uang, kesehatan, kebahagiaan, keharmonisan, ilmu, hidayah dan sebagainya, maka untuk mempermudah kita sempitikan dulu istilah rezeki hanya di “uang” saja. Tentu, tanpa mengabaikan rezeki-rezeki lainnya yang sudah Allah berikan pada kita. Banyak orang yang ngeluh kenapa penghasilannya segitu-gitu aja tanpa mau intropeksi diri dengan kualitas dan kuantitas ibadahnya. Mereka lupa, bahwa rezeki berbanding lurus dengan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Solusi sejalan dengan seberapa sungguh-sungguhnya kita untuk tetap bertakwa kepada Allah. Ada pedagang yang jualan hariannya nggak pernah mencapai target, karena sholat wajibnya aja suka di akhir waktu. Ada karyawan yang bertahun-tahun kerja ngga pernah naik gaji dan dipromosikan, karena ibadahnya saja di sisa waktu kerja. Mari kita bermain itung-itungan sedikit. Katakanlah, setiap sholat wajib kita selalu t

Dosa versus Doa

Pernah coba mengambil sejumlah dana di ATM dan mesin uang tersebut lalu minta maaf?   “ Maaf saldo Anda tidak cukup. Cobalah minta yang lebih kecil.”   Kita mau ambil 10 juta, tapi saldo yang tersisa tinggal 10 ribu. Kecewa? Iya, kalau kita “tidak sadar diri” dengan ngecek saldo terlebih dulu. Harusnya, kalau kita “tahu diri” bahwa saldonya hanya segitu, maka tidak perlu marah dan sedih. Wong emang kita ga punya duit. Sebaliknya, kita mau ambil dana 10 juta, saldo kita ada 100 juta. Mesin pun mengeluarkan uang. Wajar. Atau kasus lain,   kita tahu bahwa saldo masih ada 100 juta, tapi ketika ambil 10 juta, kenapa sisanya malah tinggal 50 juta? Kan harusnya 90 juta? Ternyata auto debit dari cicilan-cicilan kartu kredit, KPR, motor, asuransi dll sebanyak 40 juta. Makanya habis. Pernah merasa amal kita besar, tapi doa-doa kita sepertinya lama sekali dikabulkan Allah SWT? Di sisi lain, ada teman kita yang amalnya biasa-biasa aja, sedekah standard, sholatnya cuma 5 waktu, puasa hany