Skip to main content

Militansi Tanpa Literasi

Saat umat Islam di Indonesia dipertontonkan dengan berbagai episode-episode kezaliman yang dilakukan para penguasa, mulai dari kriminalisasi ulama, ketiimpangan hukum, pemberitaan yang tidak seimbang, celaan para buzzer, fitnah dan sebagainya, maka ghiroh umat untuk membela agamanya meningkat. Tidak saja bagi mereka yang orang santri, bahkan mereka yang “Islam KTP” pun bangkit melawan oleh apa yang mereka sebut sebagai kezaliman.

Di sinilah timbul masalah baru: militansi yang tidak diiringi literasi.

Muncul postingan di grup-grup WA yang menggambarkan keburukan penguasa, atau sesuatu yang menambah keimanan orang yang membaca. Di-sharing tanpa disaring. Tersebar ke berbagai media sosial. Dibaca oleh jutaan orang, walau kebenarannya belum tentu akurat.

Ingat kasus foto jenazah laskar FPI yang ditembak mati aparat dalam kondisi senyum? Setelah tersebar kemana-mana, pemilik wajah asli foto itu ternyata masih hidup, dan memang orangnya murah senyum. Dengan sedikit sentuhan Photoshop, efek darah, lebam dll, maka munculah narasi heroik: laskar tersebut mati syahid dengan bibir tersenyum.

Masih dalam kasus penembakan FPI, ada juga foto beberapa jenazah di sebuah rumah sakit. Narasinya adalah mereka anggota FPI yang ditembak di Cikampek. Faktanya, itu adalah foto penjahat yang ditembak polisi pada tahun 2018. Dikutip dan dinarasikan secara berbeda.

Memproduksi berita bohong jelas adalah kejahatan, dan Al Qur’an sudah mewanti-wanti akan hal ini dalam surah An Nahl ayat 105: Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.

Namun, mereka menyebarkan berita bohong tanpa melakukan verifikasi termasuk perbuatan yang tidak kalah jahatnya.

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (QS. Al-Nūr :10).

Jadi, jangan anggap remeh berita hoax yang kita sebarkan tanpa kita teliti dulu kebenarannya. Bagi kita biasa saja, tapi bagi Allah itu adalah dosa besar!

Apa saja jenis-jenis berita hoax?

Pertama, narasi palsu. Fotonya foto asli, bukan editan, tapi narasinya yang palsu. Pernah ada foto seorang juru ketik tua yang ditendang seseorang yang berseragam seperti satpol PP. Narasinya adalah juru ketik tersebut diusir oleh satpol PP di Jawa Tengah. Padahal, foto tersebut terjadi di India. Atau kisah wanita muslimah Uighur yang diikat dengan batu bata di lehernya. Narasinya adalah Fatimah Aynur, Muslimah cantik Uyghur yang syahid tewas disiksa, diperkosa dan dibunuh oleh komunis China”. Padahal, itu adalah lukisan bertema pengikut Falun Gong.

Kedua, foto editan. Ini yang harus sangat berhati-hati sekali karena kecanggihan teknologi sangat halus dalam memanipulasi gambar. Jangan langsung percaya kalau ada foto yang sangat frontal karena bisa jadi itu editan. Misalnya, selain contoh FPI di atas, ada juga foto jasad Osama bin Laden yang hangus terbakar karena dibom Amerika. Padahal, foto editan.

Ketiga, catut nama. Ini yang paling mudah dan sering terjadi. Misalnya, daftar minuman berenergi yang bisa mendorong penyakit kanker, dirilis oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI).  Faktanya, IDI tidak pernah mengeluarkan daftar tersebut. Ada juga informasi yang banyak beredar di Grup Whatsapp dengan isi pesan yang mengatasnamakan pakar virus atau virolog Moh Indro Cahyono. Dalam pesan tersebut berisi tentang proses penyebaran virus hingga penjelasan mengenai kemungkinan pasien positif untuk kembali terinfeksi virus corona.

Istilah berita bohong (hoax) dalam Al-Qur’an bisa diidentifikasi dari pengertian kata al-ifk. Kata al-ifk terambil dari kata al-afku yaitu keterbalikan, baik material seperti akibat gempa yang menjungkirbalikkan negeri, maupun immaterial seperti keindahan bila dilukiskan dalam bentuk keburukan atau sebaliknya. Yang dimaksud di sini adalah kebohongan besar, karena kebohongan adalah pemutarbalikan fakta. Kata al-ifk dalam berbagai bentuknya disebutkan sebanyak 22 kali dalam Al-Qur’an yang diartikan sebagai perkataan dusta, yakni perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Percaya sama berita bohong, menyebarkannya, selain berdampak buruk pada pribadi juga bisa berdampak buruk pada masyarakat. Apalagi jika penyebarnya tersebut dikenal sebagai tokoh masyarakat atau juru dakwah. Bisa berdampak pada organisasinya sendiri.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

Bagaimana cara melakukan verifikasi terhadap suatu berita dengan sederhana? Jika merupakan pencatutan, cukup dengan melihat website organisasi tersebut tersebut apakah informasi yang disebarluaskan itu tercantum juga atau tidak di situs resminya. Cara kedua, jika merupakan gambar, buka situs Google Image, upload foto yang kita curigai hoax, kemudian lakukan search. Nanti akan muncul banyak foto yang serupa. Carilah yang paling mirip, kemudian lihat sumbernya.

Cara ketiga, biasanya sudah ada orang yang membongkar hoax atau bukannya. Maka carilah informasi tersebut melalui Google. Misalnya, jika ambil contoh hoax tentang pecel lele mengandung sel-sel kanker. Ketik saja “pecel lele mengandung sel kanker hoax”. Nanti akan muncul hasil berupa hoax tidaknya informasi tersebut.

So, waspada hoax. Perbanyak literasi agar tidak mudah diprovokasi, namun tetap pertahankan militansi, agar umat tetap tercerahi.

Sumber:

http://eprints.ums.ac.id/79558/14/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf

http://repository.uinjambi.ac.id/1185/1/ABDULLAH%20BIN%20MUHAMMAD%20RAZAKI%20IAT301170001%20-%20abdullah%20razaki18.pdf

Comments

Popular posts from this blog

Berangkat Haji karena Becak

Kisah ini saya dengar dari sebuah buku, kalau tidak salah buku terbitan PPPA Daarul Qur’an. Seorang tukang becak yang punya cita-cita ingin haji percaya betul bahwa Allah SWT yang berkehendak memberangkatkan atau tidak memberangkatkan orang. Bukan uang yang menyebabkan orang bisa ke Makkah dan Madinah. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi adalah milik Allah, tidak sulit bagi Allah mengundang hamba-hambaNya untuk hadir ke rumahNya.  Supaya diberi  privilege  untuk bisa ke tanah suci, yang harus dilakukan tentu adalah “merayu” Pemilik tanah suci, alias Allah SWT. Salah satu cara merayunya adalah dengan melakukan apa yang Allah SWT sukai, ridhio, senangi, sehingga Dia berkenan mengundang hamba tersebut ke sana. Tidak peduli setinggi apapun biaya haji, atau biaya umroh, kalau Allah sudah mengundang, maka  kun fayakun , terjadilah apa yang Dia kehendaki terjadi. Pak Parman, tukang becak yang tinggal di kampung Kebon Kopi, adalah salah satu contoh betapa jika Allah sudah berkehendak tidak ad

Rezeki Segini-Gini Aja? Mungkin Karena Ibadahmu yang Segitu-Gitu Aja…

Pernah ngga kita nyoba ngukur berapa besar rezeki kita dengan amalan ibadah yang kita lakukan sekarang? Karena rezeki itu luas, ada uang, kesehatan, kebahagiaan, keharmonisan, ilmu, hidayah dan sebagainya, maka untuk mempermudah kita sempitikan dulu istilah rezeki hanya di “uang” saja. Tentu, tanpa mengabaikan rezeki-rezeki lainnya yang sudah Allah berikan pada kita. Banyak orang yang ngeluh kenapa penghasilannya segitu-gitu aja tanpa mau intropeksi diri dengan kualitas dan kuantitas ibadahnya. Mereka lupa, bahwa rezeki berbanding lurus dengan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Solusi sejalan dengan seberapa sungguh-sungguhnya kita untuk tetap bertakwa kepada Allah. Ada pedagang yang jualan hariannya nggak pernah mencapai target, karena sholat wajibnya aja suka di akhir waktu. Ada karyawan yang bertahun-tahun kerja ngga pernah naik gaji dan dipromosikan, karena ibadahnya saja di sisa waktu kerja. Mari kita bermain itung-itungan sedikit. Katakanlah, setiap sholat wajib kita selalu t

Dosa versus Doa

Pernah coba mengambil sejumlah dana di ATM dan mesin uang tersebut lalu minta maaf?   “ Maaf saldo Anda tidak cukup. Cobalah minta yang lebih kecil.”   Kita mau ambil 10 juta, tapi saldo yang tersisa tinggal 10 ribu. Kecewa? Iya, kalau kita “tidak sadar diri” dengan ngecek saldo terlebih dulu. Harusnya, kalau kita “tahu diri” bahwa saldonya hanya segitu, maka tidak perlu marah dan sedih. Wong emang kita ga punya duit. Sebaliknya, kita mau ambil dana 10 juta, saldo kita ada 100 juta. Mesin pun mengeluarkan uang. Wajar. Atau kasus lain,   kita tahu bahwa saldo masih ada 100 juta, tapi ketika ambil 10 juta, kenapa sisanya malah tinggal 50 juta? Kan harusnya 90 juta? Ternyata auto debit dari cicilan-cicilan kartu kredit, KPR, motor, asuransi dll sebanyak 40 juta. Makanya habis. Pernah merasa amal kita besar, tapi doa-doa kita sepertinya lama sekali dikabulkan Allah SWT? Di sisi lain, ada teman kita yang amalnya biasa-biasa aja, sedekah standard, sholatnya cuma 5 waktu, puasa hany