Skip to main content

Less Effort, High Result. Usaha Seuprit, Hasil Selangit

Pernah memperhatikan fenomena “aneh” yang terjadi di sekitaran kita?  Ada orang yang kerja keras seharian, pergi sebelum subuh, pulang setelah Isya. Penghasilannya? Yah, cukuplah buat makan keluarga, nabung sedikit, sekolahin anak. Ngepaslah pokoknya.

Ada juga orang yang kerjaannya santai, pergi ke kantor jam 7 pagi, pas jalanan udah ngga terlalu macet, pulang kantor juga jam 5, sampai rumah masih bisa nonton tipi, main sama anak, baca buku, Youtuban dan kadang ikut rapat RT. Penghasilannya? Bisa beli macem-macem di luar kebutuhan pokoknya.

Kenapa bisa beda begitu?

“Ah, kan yang satu gajinya memang kecil, kalau yang satu lagi udah jadi Bos, jadi bebas waktunya dan duitnya lebih gede…”

 “Wajarlah, yang satu kebutuhannya banyak, yang satu ngga….”

“No wonder lah, wong yang satu baru jadi pegawai, jadi harus kerja ekstra keras, extra office hour, yang satu lagi udah puluhan tahun, udah bisa santai…

Berbagai macam “pembenaran” di atas pun juga sering kita dengar. Padahal, pembenaran-pembenaran itu tidaklah terlalu benar.

Satu hal yang saya amati secara pribadi, ternyata yang membedakannya adalah seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk Allah dengan seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk manusia.

Orang yang banyak lembur untuk perusahaan, penghasilannya bisa diukur. Sedangkan orang yang banyak “lembur” untuk Allah, penghasilannya tidak terukur.

Abdurrahman bin Auf, sahabat Rasulullah saw yang kaya raya, adalah seorang pengusaha. Asetnya saat meninggal mencapai 6,2 triliun rupiah, terdiri dari Dinar, unta, kambing dan kuda. Beda tipis dengan Sandiaga Uno yang mencapai 5 triliun.

Apakah metode bisnis Abdurrahman bin Auf luar biasa sehingga bisa meraup kekayaan yang luar biasa? Sebenarnya tidak juga, selain tentunya nilai-nilai kejujuran dalam berbisnis. Namun yang luar biasa adalah amalan dan ibadahnya Abdurrahman bin Auf. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berjihad bersama Rasulullah saw di medan perang. Dibanding bisnisnya, Ibnu Auf justru lebih banyak menghabiskan waktunya untuk Islam.

Lihat juga Utsman bin Affan.  Kekayaannya saat perang Tabuk mencapai 2 triliun rupiah, ia juga menyumbangkan hartanya sebanyak 75 milyar rupiah untuk membantu pasukan muslim. Tapi apakah kebanyakan waktunya memang dipakai untuk bisnis? Tidak, justru lebih banyak untuk ibadah dan berjihad. Setiap Ramadhan Utsman selalu mengkhatamkan Al Qur’an sehari sekali. Kebayang kan, berapa waktu yang habis untuk Allah dibanding untuk bisnis?

Lifestyle atau gaya hidup para sahabat Rasulullah saw itu tentu bikin kita iri. Mereka kerjanya sedikit, tapi hasilnya besar. Kerja minimalis, hasil maksimal. Less effort, high impact. Apa rahasianya? Mereka adalah orang-orang yang bekerja untuk Allah, menghabiskan waktunya sebagian besar untuk Allah, dan sedikit menyisakan untuk urusan dunianya.

Sahabat Rasulullah, khususnya mereka yang terkategori tajir melintir, adalah orang-orang yang “Lambung-lambungnya jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan.” (QS. Sajdah: 6)

Kualitas dan kuantitas ibadah mereka memang extra ordinary, luar biasa dan bahkan “ekstrim” jika diukur dari standard kita.

Mereka para pecinta akherat, pengejar Surga, dan cukup mengambil dunia hanya remah-remahnya saja. Karena itulah Allah tundukkan dunia untuk mereka.

Rumus untuk mengikuti jalan mereka adalah dengan memperbesar alokasi waktu kita untuk Allah SWT. Mari kita bermain matematika penghasilan.

Anggaplah saat ini gaji Anda adalah 10 juta perbulan dengan jam kerja 8 jam per hari. Berarti total sebulan (22 hari, jika Sabtu Minggu libur) adalah 176 jam. Maka gaji Anda per jam adalah 10 juta dibagi 176 jam sama dengan 57 ribu rupiah.

Kalau Anda mau dapat penghasilan 20 juta, maka jam kerja Anda haruslah 176 jam dikali 2 sama dengan 352 jam. Mau penghasilan 30 juta berarti 176 x 3 sama dengan 528 jam. Dst.

Sampai sini, masih bisa mengikuti?

Oke lanjut. Dengan standard rezeki (penghasilan) Anda saat ini 10 juta, maka jika ingin punya penghasilan 20 juta harus kerja sebanyak 352 jam. Sanggup?

Kalau ngga sanggup, kita bagi sepersepuluh dari 352 jam, jadinya 35 jam. Betul, ya?

Nah, kalau kita alokasikan 35 jam untuk Allah, sanggup ngga? Misalnya 35 jam itu kita pecah-pecahin jadi 7 hari, jadinya per hari kita alokasikan 5 jam beribadah kepada Allah. Bisa lewat tahajud, dhuha, tilawah Al Qur’an, datang ke Majelis Taklim, zikir dll. Pokoknya habiskan per hari 5 jam untuk Allah. Sampai seminggu / 7 hari. Insya Allah nanti Allah akan turunkan rezeki sebanyak 20 juta rupiah.

Kok harus dibagi 10 durasi jam nya? Sebab Allah menilai amalan kita selalu minimal dikalikan 10.

“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat maka ia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya dirugikan” (QS. Al-An'am: 160).

Lebih sanggup ibadah 35 jam atau kerja 352 jam?

Untuk mencapai 5 jam ibadah per hari, bisa juga ikutin jadwal berikut ini:

Tahajud (bangun jam 4) sampai sholat syuruq jam 6 total 2 jam.

Abis itu lanjut tilawah 1 juz selama 1 jam. Total udah 3 jam.

Sholat dhuha 8 rakaat selama 30 menit.

Zikir (sholawatan, istighfar, dll) 30 menit.

Sholat wajib ditambah sunnah rawatib selama sisa 4 waktu total 1 jam.

Maka secara keseluruhan udah 5 jam.

Gampang, kan?

Cobain dah, dan rasakan perbedaan penghasilannya. Insya Allah.

Comments

Popular posts from this blog

Berangkat Haji karena Becak

Kisah ini saya dengar dari sebuah buku, kalau tidak salah buku terbitan PPPA Daarul Qur’an. Seorang tukang becak yang punya cita-cita ingin haji percaya betul bahwa Allah SWT yang berkehendak memberangkatkan atau tidak memberangkatkan orang. Bukan uang yang menyebabkan orang bisa ke Makkah dan Madinah. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi adalah milik Allah, tidak sulit bagi Allah mengundang hamba-hambaNya untuk hadir ke rumahNya.  Supaya diberi  privilege  untuk bisa ke tanah suci, yang harus dilakukan tentu adalah “merayu” Pemilik tanah suci, alias Allah SWT. Salah satu cara merayunya adalah dengan melakukan apa yang Allah SWT sukai, ridhio, senangi, sehingga Dia berkenan mengundang hamba tersebut ke sana. Tidak peduli setinggi apapun biaya haji, atau biaya umroh, kalau Allah sudah mengundang, maka  kun fayakun , terjadilah apa yang Dia kehendaki terjadi. Pak Parman, tukang becak yang tinggal di kampung Kebon Kopi, adalah salah satu contoh betapa jika Allah sudah berkehendak tidak ad

Rezeki Segini-Gini Aja? Mungkin Karena Ibadahmu yang Segitu-Gitu Aja…

Pernah ngga kita nyoba ngukur berapa besar rezeki kita dengan amalan ibadah yang kita lakukan sekarang? Karena rezeki itu luas, ada uang, kesehatan, kebahagiaan, keharmonisan, ilmu, hidayah dan sebagainya, maka untuk mempermudah kita sempitikan dulu istilah rezeki hanya di “uang” saja. Tentu, tanpa mengabaikan rezeki-rezeki lainnya yang sudah Allah berikan pada kita. Banyak orang yang ngeluh kenapa penghasilannya segitu-gitu aja tanpa mau intropeksi diri dengan kualitas dan kuantitas ibadahnya. Mereka lupa, bahwa rezeki berbanding lurus dengan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Solusi sejalan dengan seberapa sungguh-sungguhnya kita untuk tetap bertakwa kepada Allah. Ada pedagang yang jualan hariannya nggak pernah mencapai target, karena sholat wajibnya aja suka di akhir waktu. Ada karyawan yang bertahun-tahun kerja ngga pernah naik gaji dan dipromosikan, karena ibadahnya saja di sisa waktu kerja. Mari kita bermain itung-itungan sedikit. Katakanlah, setiap sholat wajib kita selalu t

Dosa versus Doa

Pernah coba mengambil sejumlah dana di ATM dan mesin uang tersebut lalu minta maaf?   “ Maaf saldo Anda tidak cukup. Cobalah minta yang lebih kecil.”   Kita mau ambil 10 juta, tapi saldo yang tersisa tinggal 10 ribu. Kecewa? Iya, kalau kita “tidak sadar diri” dengan ngecek saldo terlebih dulu. Harusnya, kalau kita “tahu diri” bahwa saldonya hanya segitu, maka tidak perlu marah dan sedih. Wong emang kita ga punya duit. Sebaliknya, kita mau ambil dana 10 juta, saldo kita ada 100 juta. Mesin pun mengeluarkan uang. Wajar. Atau kasus lain,   kita tahu bahwa saldo masih ada 100 juta, tapi ketika ambil 10 juta, kenapa sisanya malah tinggal 50 juta? Kan harusnya 90 juta? Ternyata auto debit dari cicilan-cicilan kartu kredit, KPR, motor, asuransi dll sebanyak 40 juta. Makanya habis. Pernah merasa amal kita besar, tapi doa-doa kita sepertinya lama sekali dikabulkan Allah SWT? Di sisi lain, ada teman kita yang amalnya biasa-biasa aja, sedekah standard, sholatnya cuma 5 waktu, puasa hany