Skip to main content

Lemburnya ke Allah Aja...

Kata “lembur” memang memberikan efek psikologis tersendiri bagi seorang karyawan. Ada yang sangat senang dengan lembur, karena artinya pemasukannya bertambah. Ada pula yang mendadak lemas ketika disuruh lembur, karena jam pulangnya bisa lebih lama.

Lembur menjadi kegiatan yang biasa-biasa aja dalam dunia kerja. Tapi sangat tidak biasa jika dimasukkan dalam konteks ibadah.

Berapa lama kita sanggup lembur? 3 jam? 8 jam? 10 jam? Berapa uang lembur yang kita dapat? 1 juta? 2 juta? 100 juta?

Katakanlah karyawan level officer / staf, yang bergaji 10 juta perbulan. Dia lembur total 12 jam, termasuk hari minggu. Mungkin yang dia dapat dari hasil lemburnya kurang lebih 1 jutaan. Terlalu sedikit dibandingkan pengorbanannya?

Sekarang, bagaimana kalau kita lembur kepada Allah? Kita konversikan 12 jam itu dalam bentuk ibadah. Misalnya, 1 jam untuk tahajud 11 rakaat, 1 jam untuk dhuha 12 rakaat, 1 jam untuk tilawah Al Qur’an 1 juz,maka total 3 jam. Lakukan selama 4 hari, maka totalnya 12 jam.

Kira-kira, berapa yang akan Allah kasih di akhir bulan? Kemungkinan besar jauh lebih banyak dibanding kalau kita lembur sama kantor. Itu belum termasuk bonus-bonus yang sering tidak kita sadari seperti anak yang sehat, keluarga yang adem, atasan yang baik, bisnis yang lancar, konsumen yang tidak rewel, dll.

Sayangnya, jarang di antara kita yang mau lembur untuk Allah. Kita lebih ikhlas lembur untuk perusahaan, padahal bayarannya pun segitu-segitu aja.  Bahkan waktu yang kita luangkan untuk Allah pun sekedarnya. Jika kita hanya menjalankan ibadah wajib saja, misalnya sholat lima waktu, dan katakanlah 1 kali sholat lengkap dengan zikirnya menghabiskan waktu 10 menit, maka kita hanya menghabiskan waktu kurang 1 jam untuk Allah.

Dari 24 jam yang Allah berikan pada kita, hanya 4% saja. Sedangkan kita kerja umumnya 8 jam di kantor, berarti 33% waktu kita habis untuk “berbakti kepada manusia”.

Tulisan ini tentu saja tidak menyuruh para karyawan dan pebisnis untuk meninggalkan sumber-sumber rezeki mereka. Hanya saya mencoba mengingatkan, jika kita ingin rezeki yang lebih besar, dengan waktu yang lebih luang, strateginya harus dibalik: waktu untuk Allah harus lebih banyak (minimal seimbang) dengan waktu untuk pekerjaan.

Bukankah Ustman bin Affan memiliki aset ratusan triliunan rupiah mampu mengkhatamkan Al Qur’an tiap hari? Bukankah Abdurrahman bin Auf, milyarder dari kalangan Muhajirin tidak pernah meninggalkan sholat tahajud? Konon, orang-orang Arab di zaman modern ini, hidupnya memang hanya untuk beribadah kepada Allah saja. Bisnis, pekerjaan dianggap aktifitas sampingan. Coba saja perhatikan, pasar saja bukanya siang, beda dengan di Indonesia yang subuh-subuh sudah buka dan melalaikan (sebagian) pedagang sholat subuh di masjid. Tapi begitu adzan, 99 persen pedagang langsung meninggalkan tokonya dan beranjak ke masjid. Ngga heran kalau orang-orang Arab rata-rata tajir melintir, dan tidak termasuk bagian dari komunitas "sobat missqueen"...:D

Pola kerja mereka untuk dunia biasa-biasa saja, tapi pola kerja mereka untuk Allah yang luar biasa.

Wajar kalau akhirnya Allah menundukkan dunia untuk mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Militansi Tanpa Literasi

Saat umat Islam di Indonesia dipertontonkan dengan berbagai episode-episode kezaliman yang dilakukan para penguasa, mulai dari kriminalisasi ulama, ketiimpangan hukum, pemberitaan yang tidak seimbang, celaan para buzzer, fitnah dan sebagainya, maka ghiroh umat untuk membela agamanya meningkat. Tidak saja bagi mereka yang orang santri, bahkan mereka yang “Islam KTP” pun bangkit melawan oleh apa yang mereka sebut sebagai kezaliman. Di sinilah timbul masalah baru: militansi yang tidak diiringi literasi. Muncul postingan di grup-grup WA yang menggambarkan keburukan penguasa, atau sesuatu yang menambah keimanan orang yang membaca. Di- sharing tanpa disaring. Tersebar ke berbagai media sosial. Dibaca oleh jutaan orang, walau kebenarannya belum tentu akurat. Ingat kasus foto jenazah laskar FPI yang ditembak mati aparat dalam kondisi senyum? Setelah tersebar kemana-mana, pemilik wajah asli foto itu ternyata masih hidup, dan memang orangnya murah senyum. Dengan sedikit sentuhan Photoshop

Rezeki Segini-Gini Aja? Mungkin Karena Ibadahmu yang Segitu-Gitu Aja…

Pernah ngga kita nyoba ngukur berapa besar rezeki kita dengan amalan ibadah yang kita lakukan sekarang? Karena rezeki itu luas, ada uang, kesehatan, kebahagiaan, keharmonisan, ilmu, hidayah dan sebagainya, maka untuk mempermudah kita sempitikan dulu istilah rezeki hanya di “uang” saja. Tentu, tanpa mengabaikan rezeki-rezeki lainnya yang sudah Allah berikan pada kita. Banyak orang yang ngeluh kenapa penghasilannya segitu-gitu aja tanpa mau intropeksi diri dengan kualitas dan kuantitas ibadahnya. Mereka lupa, bahwa rezeki berbanding lurus dengan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Solusi sejalan dengan seberapa sungguh-sungguhnya kita untuk tetap bertakwa kepada Allah. Ada pedagang yang jualan hariannya nggak pernah mencapai target, karena sholat wajibnya aja suka di akhir waktu. Ada karyawan yang bertahun-tahun kerja ngga pernah naik gaji dan dipromosikan, karena ibadahnya saja di sisa waktu kerja. Mari kita bermain itung-itungan sedikit. Katakanlah, setiap sholat wajib kita selalu t

Akhlak Saat Ibadah Haji

Saat saya menunaikan ibadah haji tahun 2002 yang lalu, banyak pelajaran yang saya ambil baik sebelum maupun selama berada di tanah suci. Sebagaimana calon jamaah pada umumnya, porsi pelatihan setiap hari Minggu selama tiga bulan sebelum berangkat adalah tata cara pelaksanaan, termasuk di dalamnya rukun haji, doa-doa yang dibaca, cara melempar jumroh, apa yang harus dibaca saat wukuf dan sebagainya. Hanya sedikit pembahasan tentang akhlakul karimah sebagai materi yang sangat penting untuk disampaikan. Dampak dari materi yang “kering” dari ruhiyah itu pun mulai terasa saat jamaah yang akan berangkat ke tanah suci ditempatkan di maktab Bekasi. “Perebutan” tempat tidur adalah salah satunya. Ketika seorang jamaah yang sudah “booking” tempat tidur dengan cara meletakkan barangnya di atas kasur dan pergi ke toilet, begitu dia kembali tempat tidurnya sudah ditiduri oleh jamaah lain dengan posisi barangnya diletakkan di sebelah. Demi menghindari percekcokan, jamaah yang “dikudeta” itu pun men