Skip to main content

Dosa versus Doa

Pernah coba mengambil sejumlah dana di ATM dan mesin uang tersebut lalu minta maaf?

 Maaf saldo Anda tidak cukup. Cobalah minta yang lebih kecil.”

 Kita mau ambil 10 juta, tapi saldo yang tersisa tinggal 10 ribu. Kecewa? Iya, kalau kita “tidak sadar diri” dengan ngecek saldo terlebih dulu. Harusnya, kalau kita “tahu diri” bahwa saldonya hanya segitu, maka tidak perlu marah dan sedih. Wong emang kita ga punya duit.

Sebaliknya, kita mau ambil dana 10 juta, saldo kita ada 100 juta. Mesin pun mengeluarkan uang. Wajar.

Atau kasus lain,  kita tahu bahwa saldo masih ada 100 juta, tapi ketika ambil 10 juta, kenapa sisanya malah tinggal 50 juta? Kan harusnya 90 juta? Ternyata auto debit dari cicilan-cicilan kartu kredit, KPR, motor, asuransi dll sebanyak 40 juta. Makanya habis.

Pernah merasa amal kita besar, tapi doa-doa kita sepertinya lama sekali dikabulkan Allah SWT? Di sisi lain, ada teman kita yang amalnya biasa-biasa aja, sedekah standard, sholatnya cuma 5 waktu, puasa hanya di bulan Ramadhan, tapi setiap ada hajat rasanya kok cepat sekali Allah mengabulkannya?

Bisa jadi, karena teman kita itu tidak punya “cicilan” akibat dosa-dosanya. Sementara kita, walau rajin puasa senin kamis, rajin tahajud, besar sedekahnya, namun dosa-dosa besar kita pun masih sering dilakukan. “Saldo amal” kita lalu tergerus secara autodebit oleh dosa-dosa kita. Wajarlah kalau kemudian doa kita belum dikabulkan oleh Allah.

Terkabulnya doa umumnya disebabkan 2 faktor: tabungan amal dan minimnya dosa.  Makin besar amal, lalu dosa diusahakan seminimal mungkin, maka besar kemungkinan Allah akan segera mengabulkan hajat kita. Amal kecil, dosa banyak (dan besar), maka bukan saja lama dikabulkannya, tapi bisa jadi tidak dikabul-kabulkan oleh Allah SWT.

Tapi ga perlu putus asa, walau dosa kita segunung Uhud pun, selama nyawa masih di badan, Allah tetap membuka kesempatan kita untuk bertaubat. Maka Rasulullah saw pun menganjurkan kita untuk terus beristighfar. Beliau sendiri memohon ampun pada Allah sehari 100 kali. Kita harusnya lebih dari itu, minimal 1000 kali.

Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allâh merubah setiap kesedihannya menjadi kegembiraan; Allah Azza wa Jalla memberikan solusi dari setiap kesempitannya (kesulitannya), dan Allâh anugerahkan rizki dari jalur yang tiada disangka-sangka. [HR. Ahmad dan al-Hakim]

“Saya udah beristighfar tiap hari, tapi doa saya belum dikabul-kabulin tuh,” kata kita komplain ke ustad.

Berarti 2 kemungkinan: Pertama, Allah menyimpannya untuk diberikan nanti pada saat yang dibutuhkan. Atau kemungkinan kedua, dosa kita memang terlalu besar sehingga istighfar kita belum cukup untuk melunasi hutang-hutang dosa kita kepada Allah SWT.

Terus, apakah ada solusi lain?

Tentu aja ada. Baca Ali Imron ayat 33-34, itu kuncinya.

Dan bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang diperuntukkan bagi orang-orang yang muttaqien. (Yaitu) orang-orang yang bersedekah di waktu lapang dan sempit, menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain.

Di situ ada kata “bersegeralah” , artinya kita bisa mendapatkan ampunan Allah dengan cepat, fast track, ga pake lama, ga pake nunggu, ga pake lelet, jika kita melakukan salah satu dari 3 hal ini: kita bersedekah baik pada waktu lagi banyak duit maupun lagi kere, kita menahan marah ketika ada peluang untuk marah, dan kita memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain yang pernah merugikan kita.

“Oooh, cuman gini doang? Entenglah….”

Yakin? Pada prakteknya tidak mudah kecuali bagi mereka yang memang terbiasa melakukannya.

So, inilah TO DO LIST yang harus sama-sama kita lakukan untuk mempercepat terkabulnya doa kita:

Pertama, perbanyak istighfar minimal 1000 kali. Di atas itu lebih bagus.

Kedua, cobalah buka isi dompet, cek ATM, ada berapa saldo yang masih kita punya. Cobalah sedekahkan. Jangan-jangan harta kita belum bersih karena belum kita tunaikan zakatnya. Ini yang menghambat hajat kita.

Ketiga, kalau ketemu orang yang menyebalkan, yang nyelekit kalau ngomong, yang mempermalukan kita, usahakan sekuat tenaga untuk tidak marah. Jujur, ini berat sekali, dan nggak semua orang sanggup melakukan.

Keempat, inventarisir daftar orang-orang yang pernah zholim sama kita di masa lalu. Yang pernah minjem uang kita tapi kalau ditagih malah lebih galak, mantan atasan yang dulu pernah pecat kita, tetangga yang suka parkir di depan rumah kita seenaknya, mitra bisnis yang pernah menelikung kita dari belakang, teman yang pernah menuduh kita ambil barangnya, saudara yang suka ungkit-ungkit kesalahan kita, karyawan yang nilep uang perusahaan kita, dan lain-lain. Ingat mereka, lalu doakan kebaikan pada mereka. Bilang ke Allah SWT bahwa kita sudah memaafkan mereka, dan meminta Allah agar berkenan memberikan mereka petunjuk sehingga mereka bisa menjadi lebih baik lagi hidupnya.

Insya Allah, jika kita mencoba empat langkah ini, maka dosa kita tidak akan mengalahkan doa kita. Artinya, hajat-hajat kita akan cepat dikabulkan oleh Allah SWT. Wallahu’alam.

Comments

Popular posts from this blog

Militansi Tanpa Literasi

Saat umat Islam di Indonesia dipertontonkan dengan berbagai episode-episode kezaliman yang dilakukan para penguasa, mulai dari kriminalisasi ulama, ketiimpangan hukum, pemberitaan yang tidak seimbang, celaan para buzzer, fitnah dan sebagainya, maka ghiroh umat untuk membela agamanya meningkat. Tidak saja bagi mereka yang orang santri, bahkan mereka yang “Islam KTP” pun bangkit melawan oleh apa yang mereka sebut sebagai kezaliman. Di sinilah timbul masalah baru: militansi yang tidak diiringi literasi. Muncul postingan di grup-grup WA yang menggambarkan keburukan penguasa, atau sesuatu yang menambah keimanan orang yang membaca. Di- sharing tanpa disaring. Tersebar ke berbagai media sosial. Dibaca oleh jutaan orang, walau kebenarannya belum tentu akurat. Ingat kasus foto jenazah laskar FPI yang ditembak mati aparat dalam kondisi senyum? Setelah tersebar kemana-mana, pemilik wajah asli foto itu ternyata masih hidup, dan memang orangnya murah senyum. Dengan sedikit sentuhan Photoshop

Rezeki Segini-Gini Aja? Mungkin Karena Ibadahmu yang Segitu-Gitu Aja…

Pernah ngga kita nyoba ngukur berapa besar rezeki kita dengan amalan ibadah yang kita lakukan sekarang? Karena rezeki itu luas, ada uang, kesehatan, kebahagiaan, keharmonisan, ilmu, hidayah dan sebagainya, maka untuk mempermudah kita sempitikan dulu istilah rezeki hanya di “uang” saja. Tentu, tanpa mengabaikan rezeki-rezeki lainnya yang sudah Allah berikan pada kita. Banyak orang yang ngeluh kenapa penghasilannya segitu-gitu aja tanpa mau intropeksi diri dengan kualitas dan kuantitas ibadahnya. Mereka lupa, bahwa rezeki berbanding lurus dengan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Solusi sejalan dengan seberapa sungguh-sungguhnya kita untuk tetap bertakwa kepada Allah. Ada pedagang yang jualan hariannya nggak pernah mencapai target, karena sholat wajibnya aja suka di akhir waktu. Ada karyawan yang bertahun-tahun kerja ngga pernah naik gaji dan dipromosikan, karena ibadahnya saja di sisa waktu kerja. Mari kita bermain itung-itungan sedikit. Katakanlah, setiap sholat wajib kita selalu t

Akhlak Saat Ibadah Haji

Saat saya menunaikan ibadah haji tahun 2002 yang lalu, banyak pelajaran yang saya ambil baik sebelum maupun selama berada di tanah suci. Sebagaimana calon jamaah pada umumnya, porsi pelatihan setiap hari Minggu selama tiga bulan sebelum berangkat adalah tata cara pelaksanaan, termasuk di dalamnya rukun haji, doa-doa yang dibaca, cara melempar jumroh, apa yang harus dibaca saat wukuf dan sebagainya. Hanya sedikit pembahasan tentang akhlakul karimah sebagai materi yang sangat penting untuk disampaikan. Dampak dari materi yang “kering” dari ruhiyah itu pun mulai terasa saat jamaah yang akan berangkat ke tanah suci ditempatkan di maktab Bekasi. “Perebutan” tempat tidur adalah salah satunya. Ketika seorang jamaah yang sudah “booking” tempat tidur dengan cara meletakkan barangnya di atas kasur dan pergi ke toilet, begitu dia kembali tempat tidurnya sudah ditiduri oleh jamaah lain dengan posisi barangnya diletakkan di sebelah. Demi menghindari percekcokan, jamaah yang “dikudeta” itu pun men