Skip to main content

Di Mana Kita Nyari Solusi? Konsep Dasar Metode Solusi Langit

Solusi atau jalan keluar adalah yang paling banyak dicari-cari untuk mereka yang lagi menghadapi masalah. Karena kita memang tinggal di tempat yang judulnya “DUNIA”, maka sudah sewajarnya kalau kita akan menghadapi banyak masaslah dalam hidup, mulai dari hutang piutang yang tidak terselesaikan, penyakit menahun yang ngga sembuh-sembuh, anak nakal, istri banyak menuntut, suami yang pemalas, kehidupan finansial, bisnis ditipu, difitnah orang, dikhianati sahabat dan lain-lain.

Mayoritas orang ketika menghadapi masalah yang dicari adalah orang lain yang dianggap bisa membantu menyelesaikan masalah.  Dikejar hutang, cari pinjeman. Dipecat kantor, cari orang dalam di perusahaan lain yang bisa masukin di tempat baru. Anak bandel susah diatur, dimasukin ke pesantren. Istri susah diatur, ngadu ke mertua. Suami main tangan, ngadu ke orang tua. 

Tentu saja mengadukan masalah ke manusia adalah hal yang wajar. Sayangnya, hampir orang yang dianggap sebagai “sumber solusi” ternyata memang tidak bisa memberikan solusi. Alih-alih menyelesaikan masalah, malah kadang menimbulkan masalah baru. Minjem duit ke teman, dia ngga bisa ngasih pinjaman, malah dia yang ceritain ke teman-teman lain kalau kita mau minjem duit. Berobat ke dokter A, salah diagnosis, malah menimbulkan penyakit baru. Lapor polisi karena habis ditipu, malah mengeluarkan uang yang banyak buat prosesnya.  Istilahnya, lapor hilang ayam, abis laporan hilang kandang.

Lalu, apakah kita sama sekali tidak boleh mengadu ke makhluk tentang masalah kita? Bukan tidak boleh, tapi porsinya yang harus dikurangi. Daripada bercerita kepada teman, saudara, sobat tentang masalah kita, kenapa tidak kita bercerita kepada Allah SWT saja? Kenapa tidak kita mengadu masalah kita kepada Allah SWT?

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.  (QS. Huud:123)

Solusi itu adalah masalah yang ghaib. Arti kata “ghaib” adalah tidak tampak, tidak kasat mata, tidak terlihat. Di beberapa ayat Al Qur’an, ketika Allah menceritakan kisah Nabi-Nabi terdahulu, juga disebutkan kata “ghaib” karena memang peristiwa itu sudah berlangsung di masa lampau dan tidak tampak oleh Rasulullah saw. Demikian juga ketika Allah menceritakan tentang masa depan, juga disebut sebagai sesuatu yang ghaib. Hari kiamat, alam kubur, surga, neraka adalah hal ghaib. Termasuk juga solusi.

Syekh al-Thahir bin ‘Asyur mendefinisikan gaib yaitu ma la yudriku al-hiss, sesuatu yang tidak dapat diakses atau ditangkap pancaindera. Tidak bisa dilihat, diraba, dipegang, dirasakan, dicium, dan didengar. Tapi eksistensinya ada.

Imam Fakhruddin al-Razi juga berpendapat bahwa ghaib adalah ma ghaba ‘an al-hissiy (sesuatu yang tersembunyi dari indera). Lawan katanya adalah al-syahid, yaitu ma hadhara (sesuatu yang hadir).

Imam al-Razi ketika mengartikan ghiyabah yang seakar kata dengan gaib yaitu segala sesuatu yang tersembunyi dan tertutupi. Seperti kacang tertutup oleh kulitnya disebut ghiyabah. Dan segala sesuatu yang gelap tak tertembus indera adalah gaib.

Bukankah ketika kita menghadapi masalah kita benar-benar tidak kelihatan solusi dan jalan keluarnya? Bukan TIDAK ADA , melainkan TIDAK KELIHATAN. Kesalahan kita selama ini dalam mencari solusi adalah fokus pada yang kelihatan, namun abai dari apa yang tidak kelihatan.

Dalam surah Huud di atas, Allah SWT membimbing cara kita dalam mencari solusi terhadap masalah. Dasar berpikir kita adalah solusi kita masih ghaib, belum syahid (nyata). Jadi solusi ini masih “dimiliki” Allah SWT, belum diserahterimakan kepada kita. Allah sudah punya jawaban atas masalah kita. Tinggal kita jemput aja.

Bagaimana cara jemputnya? Syarat pertama: sembahlah Dia.

“Lho, saya kan memang selama ini menyembah Allah, bukan yang lain”…, demikian kata sebagian orang.

Sebelum saya nanggepin, kita definisikan dulu apa arti kata “menyembah” menurut Al Qur’an.

Menyembah dalam bahasa Arab adalah ‘abada. Pelakunya disebut abid (ahli ibadah). Setiap hari kita bersumpah kepada Allah setidaknya 17 kali sehari. Dalam setiap Al Fatihah yang kita baca, ada kalimat “hanya kepada Engkau kami menyembah, dan hanya kepada Engkau kami minta pertolongan”. 

Perhatikan kalimat ini. Menyembah disejajarkan dengan “hanya meminta pertolongan kepada Allah”. Tidak bisa dikatakan “menyembah Allah” mereka yang masih mengharap pertolongan kepada manusia (dalam hal kondisi hati, bukan dalam konteks ikhtiar).

Menyembah itu adalah perbuatan hati, sedangkan sholat, puasa, zakat dll perbuatan lahiriah.  Kita sholat sih, tapi hati kita tidak sungguh-sungguh menyembah Allah. Kita masih menggantungkan harapan kita pada teman kita, saudara kita, rekan kerja kita dalam hal mencari solusi. Maka wajar kalau Allah belum berkenan menurunkan solusi yang masih ghaib kepada kita, karena memang kondisi hati kita yang belum sepenuhnya menyembah Allah.

Setelah hati kita hanya berharap pada Allah, maka syarat kedua adalah bertawakal. Tawakal adalah sebuah kata yang merupakan bahasa serapan dari bahasa Arab (Tawakala), kata ini diucapkan kepada seseorang yang sedang bimbang menanti sebuah keputusan, dilanda kebingungan. Bahasa gaulnya, galau.

Orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah, adalah orang yang secara langsung berarti sudah mempercepat proses turunnya solusi dari Allah.

Maka jika kita ingin mendapatkan jalan keluar dari setiap masalah hidup kita, hal mendasar yang harus adalah dalam pikiran kita adalah solusi datangnya dari Allah. Bentuknya masih ghaib, tapi ada. Nyata, tapi belum kelihatan. Riil, tapi masih abstrak. Cara membuatnya menjadi wujud (syahid) adalah totalitas menyembah kepada Allah dalam arti memutuskan harapan kepada manusia, dan menyerahkan semua urusan hanya kepada Yang Maha Memiliki Segala Urusan.

Jangan curhat ke Facebook, jangan tunjukkan kesusahan kita di grup WA, jangan pasang muka penuh masalah kepada orang lain. Yakinlah, itu tidak membantu kita mendapatkan solusi.

Inilah konsep dasarnya. Inilah konsep dasar Metode Solusi Langit.

Comments

Popular posts from this blog

Berangkat Haji karena Becak

Kisah ini saya dengar dari sebuah buku, kalau tidak salah buku terbitan PPPA Daarul Qur’an. Seorang tukang becak yang punya cita-cita ingin haji percaya betul bahwa Allah SWT yang berkehendak memberangkatkan atau tidak memberangkatkan orang. Bukan uang yang menyebabkan orang bisa ke Makkah dan Madinah. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi adalah milik Allah, tidak sulit bagi Allah mengundang hamba-hambaNya untuk hadir ke rumahNya.  Supaya diberi  privilege  untuk bisa ke tanah suci, yang harus dilakukan tentu adalah “merayu” Pemilik tanah suci, alias Allah SWT. Salah satu cara merayunya adalah dengan melakukan apa yang Allah SWT sukai, ridhio, senangi, sehingga Dia berkenan mengundang hamba tersebut ke sana. Tidak peduli setinggi apapun biaya haji, atau biaya umroh, kalau Allah sudah mengundang, maka  kun fayakun , terjadilah apa yang Dia kehendaki terjadi. Pak Parman, tukang becak yang tinggal di kampung Kebon Kopi, adalah salah satu contoh betapa jika Allah sudah berkehendak tidak ad

Rezeki Segini-Gini Aja? Mungkin Karena Ibadahmu yang Segitu-Gitu Aja…

Pernah ngga kita nyoba ngukur berapa besar rezeki kita dengan amalan ibadah yang kita lakukan sekarang? Karena rezeki itu luas, ada uang, kesehatan, kebahagiaan, keharmonisan, ilmu, hidayah dan sebagainya, maka untuk mempermudah kita sempitikan dulu istilah rezeki hanya di “uang” saja. Tentu, tanpa mengabaikan rezeki-rezeki lainnya yang sudah Allah berikan pada kita. Banyak orang yang ngeluh kenapa penghasilannya segitu-gitu aja tanpa mau intropeksi diri dengan kualitas dan kuantitas ibadahnya. Mereka lupa, bahwa rezeki berbanding lurus dengan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Solusi sejalan dengan seberapa sungguh-sungguhnya kita untuk tetap bertakwa kepada Allah. Ada pedagang yang jualan hariannya nggak pernah mencapai target, karena sholat wajibnya aja suka di akhir waktu. Ada karyawan yang bertahun-tahun kerja ngga pernah naik gaji dan dipromosikan, karena ibadahnya saja di sisa waktu kerja. Mari kita bermain itung-itungan sedikit. Katakanlah, setiap sholat wajib kita selalu t

Dosa versus Doa

Pernah coba mengambil sejumlah dana di ATM dan mesin uang tersebut lalu minta maaf?   “ Maaf saldo Anda tidak cukup. Cobalah minta yang lebih kecil.”   Kita mau ambil 10 juta, tapi saldo yang tersisa tinggal 10 ribu. Kecewa? Iya, kalau kita “tidak sadar diri” dengan ngecek saldo terlebih dulu. Harusnya, kalau kita “tahu diri” bahwa saldonya hanya segitu, maka tidak perlu marah dan sedih. Wong emang kita ga punya duit. Sebaliknya, kita mau ambil dana 10 juta, saldo kita ada 100 juta. Mesin pun mengeluarkan uang. Wajar. Atau kasus lain,   kita tahu bahwa saldo masih ada 100 juta, tapi ketika ambil 10 juta, kenapa sisanya malah tinggal 50 juta? Kan harusnya 90 juta? Ternyata auto debit dari cicilan-cicilan kartu kredit, KPR, motor, asuransi dll sebanyak 40 juta. Makanya habis. Pernah merasa amal kita besar, tapi doa-doa kita sepertinya lama sekali dikabulkan Allah SWT? Di sisi lain, ada teman kita yang amalnya biasa-biasa aja, sedekah standard, sholatnya cuma 5 waktu, puasa hany