Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2021

Less Effort, High Result. Usaha Seuprit, Hasil Selangit

Pernah memperhatikan fenomena “aneh” yang terjadi di sekitaran kita?  Ada orang yang kerja keras seharian, pergi sebelum subuh, pulang setelah Isya. Penghasilannya? Yah, cukuplah buat makan keluarga, nabung sedikit, sekolahin anak. Ngepaslah pokoknya. Ada juga orang yang kerjaannya santai, pergi ke kantor jam 7 pagi, pas jalanan udah ngga terlalu macet, pulang kantor juga jam 5, sampai rumah masih bisa nonton tipi, main sama anak, baca buku, Youtuban dan kadang ikut rapat RT. Penghasilannya? Bisa beli macem-macem di luar kebutuhan pokoknya. Kenapa bisa beda begitu? “Ah, kan yang satu gajinya memang kecil, kalau yang satu lagi udah jadi Bos, jadi bebas waktunya dan duitnya lebih gede…”   “Wajarlah, yang satu kebutuhannya banyak, yang satu ngga….” “No wonder lah, wong yang satu baru jadi pegawai, jadi harus kerja ekstra keras, extra office hour, yang satu lagi udah puluhan tahun, udah bisa santai… ” Berbagai macam “pembenaran” di atas pun juga sering kita dengar. Padahal, pem

Lemburnya ke Allah Aja...

Kata “lembur” memang memberikan efek psikologis tersendiri bagi seorang karyawan. Ada yang sangat senang dengan lembur, karena artinya pemasukannya bertambah. Ada pula yang mendadak lemas ketika disuruh lembur, karena jam pulangnya bisa lebih lama. Lembur menjadi kegiatan yang biasa-biasa aja dalam dunia kerja. Tapi sangat tidak biasa jika dimasukkan dalam konteks ibadah. Berapa lama kita sanggup lembur? 3 jam? 8 jam? 10 jam? Berapa uang lembur yang kita dapat? 1 juta? 2 juta? 100 juta? Katakanlah karyawan level officer / staf, yang bergaji 10 juta perbulan. Dia lembur total 12 jam, termasuk hari minggu. Mungkin yang dia dapat dari hasil lemburnya kurang lebih 1 jutaan. Terlalu sedikit dibandingkan pengorbanannya? Sekarang, bagaimana kalau kita lembur kepada Allah? Kita konversikan 12 jam itu dalam bentuk ibadah. Misalnya, 1 jam untuk tahajud 11 rakaat, 1 jam untuk dhuha 12 rakaat, 1 jam untuk tilawah Al Qur’an 1 juz,maka total 3 jam. Lakukan selama 4 hari, maka totalnya 12 jam

Pengen Doa Cepat Terkabul? Cobain Cara Cespleng Ini....

Terkabul tidaknya doa, baik sesuai keinginan atau berbeda sama sekali, dipengaruhi banyak faktor. Di antara faktor-faktornya adalah banyaknya dosa, besarnya hajat sehingga membutuhkan waktu untuk “diproses”, potensi kemaksiatan apabila doa dikabulkan Allah, dan pengabulan dalam bentuk lain yang lebih baik. Apapun itu, terkadang kita sebagai manusia, apalagi jika kebutuhannya sudah mendesak, menafsirkan pengabulan doa sama dengan sesuai 100 persen dengan apa yang kita minta. Kita memperlakukan Allah SWT sebagai “bawahan” kita, yang kalau kita “perintahkan” sesuatu harus segera dilaksanakan. Kita lupa bahwa kita ini adalah hamba, yang Allah sama sekali tidak butuh kita, justru kitalah yang butuh sama Allah. "Hai manusia, kamulah yang amat butuh kepada Allah, dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15) Kadang kita memperlakukan doa seperti lampu ajaib yang diusap-usap, keluar jin, lalu tinggal bilang 3 permintaan. Sungguh

Karena Kita adalah Hamba yang Tidak Menghamba

Doa adalah bentuk penghambaan. Ekspresi ketidakmampuan, kepasrahan, dan penyerahan. Tujuan berdoa hakekatnya bukan untuk pengabulan, tapi untuk memperoleh rasa kehinaan di hadapan Allah SWT. Mengapa doa para Rasul, para ulama, para wali cepat terkabul? Karena rasa hina dan takut mereka kepada Allah SWT lebih tinggi daripada orang awam. Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun . (QS Surat Fathir: 28) Imam Ghozali mengatakan, doa yg berkualitas adalah yg punya 2 unsur: khauf (takut) dan roja’ (harap). Jika doa kita jarang atau tidak pernah terkabul, barangkali disebabkan karena hati kita yang biasa2 saja saat berdoa. Kita tidak merasa takut kepada Allah SWT (padahal dosa kita banyak), dan di sisi lain kita tidak serius mengharap kepada Allah agar doa kita terkabul. Bayangkan ilustrasi ini: kita membuat kesalahan besar di tempat kerja sehingga merugikan perusahaan. Lalu kita mau meng

Dosa versus Doa

Pernah coba mengambil sejumlah dana di ATM dan mesin uang tersebut lalu minta maaf?   “ Maaf saldo Anda tidak cukup. Cobalah minta yang lebih kecil.”   Kita mau ambil 10 juta, tapi saldo yang tersisa tinggal 10 ribu. Kecewa? Iya, kalau kita “tidak sadar diri” dengan ngecek saldo terlebih dulu. Harusnya, kalau kita “tahu diri” bahwa saldonya hanya segitu, maka tidak perlu marah dan sedih. Wong emang kita ga punya duit. Sebaliknya, kita mau ambil dana 10 juta, saldo kita ada 100 juta. Mesin pun mengeluarkan uang. Wajar. Atau kasus lain,   kita tahu bahwa saldo masih ada 100 juta, tapi ketika ambil 10 juta, kenapa sisanya malah tinggal 50 juta? Kan harusnya 90 juta? Ternyata auto debit dari cicilan-cicilan kartu kredit, KPR, motor, asuransi dll sebanyak 40 juta. Makanya habis. Pernah merasa amal kita besar, tapi doa-doa kita sepertinya lama sekali dikabulkan Allah SWT? Di sisi lain, ada teman kita yang amalnya biasa-biasa aja, sedekah standard, sholatnya cuma 5 waktu, puasa hany

Di Mana Kita Nyari Solusi? Konsep Dasar Metode Solusi Langit

Solusi atau jalan keluar adalah yang paling banyak dicari-cari untuk mereka yang lagi menghadapi masalah. Karena kita memang tinggal di tempat yang judulnya “DUNIA”, maka sudah sewajarnya kalau kita akan menghadapi banyak masaslah dalam hidup, mulai dari hutang piutang yang tidak terselesaikan, penyakit menahun yang ngga sembuh-sembuh, anak nakal, istri banyak menuntut, suami yang pemalas, kehidupan finansial, bisnis ditipu, difitnah orang, dikhianati sahabat dan lain-lain. Mayoritas orang ketika menghadapi masalah yang dicari adalah orang lain yang dianggap bisa membantu menyelesaikan masalah.  Dikejar hutang, cari pinjeman. Dipecat kantor, cari orang dalam di perusahaan lain yang bisa masukin di tempat baru. Anak bandel susah diatur, dimasukin ke pesantren. Istri susah diatur, ngadu ke mertua. Suami main tangan, ngadu ke orang tua.  Tentu saja mengadukan masalah ke manusia adalah hal yang wajar. Sayangnya, hampir orang yang dianggap sebagai “sumber solusi” ternyata memang tidak b